Jejak Khilafah terakhir Utsmaniyah di Irlandia
27 December 2025

Sumbangan Sultan yang ditolak besarnya oleh Inggris memperlihatkan rasa kurang belas kasih dari pihak yang seharusnya bertanggungjawab
Ayah Radjawali
Kelaparan Besar Irlandia atau The Great Famine adalah tragedi kemanusiaan yang sangat penting dalam sejarah dunia, berlangsung antara tahun 1845 hingga 1852. Peristiwa ini bukan hanya disebabkan oleh kegagalan panen, tetapi diperparah oleh kerentanan sosial, politik, dan ekonomi Irlandia saat itu, yang berada di bawah kekuasaan Inggris.
Latar Belakang dan Penyebab Kelaparan
- Pada awal tahun 1840-an, penduduk Irlandia melonjak, mencapai sekitar 8.4 juta jiwa. Hampir setengah dari populasi, terutama para petani miskin (cottiers), sangat bergantung pada kentang sebagai makanan pokok mereka. Kentang mudah ditanam, menghasilkan kalori tinggi di lahan kecil, dan menjadi satu-satunya sumber pangan yang memungkinkan petani membayar sewa kepada tuan tanah.
- Pada tahun 1845, spora jamur air bernama Phytophthora infestans, atau yang menyebabkan Hawar Kentang (Late Blight), tiba di Irlandia dari Amerika Utara. Penyakit ini menyebabkan daun dan umbi kentang membusuk menjadi massa hitam yang tidak dapat dimakan. Cuaca lembap dan dingin di Irlandia saat itu sangat kondusif bagi penyebaran jamur. Kegagalan panen kentang terjadi secara beruntun selama beberapa tahun, membuat jutaan orang kehilangan sumber makanan mereka.
- Kelaparan ini diperparah oleh struktur sosial dan politik yang timpang karena Irlandia berada di bawah kendali Britania Raya sejak Undang-Undang Penyatuan
- Sebagian besar tanah di Irlandia dimiliki oleh tuan tanah Protestan berkebangsaan Inggris atau Anglo-Irlandia, sementara petani kecil dan pekerja adalah Katolik Irlandia. Tuan tanah sering menuntut sewa yang tinggi.
- Meskipun terjadi kelaparan parah, ekspor gandum, biji-bijian, ternak, dan produk makanan lainnya dari Irlandia ke Inggris terus berlanjut. Hal ini memicu kontroversi besar dan sering disorot sebagai salah satu faktor yang memperburuk bencana.
Dampak dan Konsekuensi HistorisKelaparan Besar Irlandia meninggalkan luka mendalam yang mengubah demografi dan masyarakat Irlandia secara permanen. Diperkirakan sekitar satu juta orang meninggal akibat kelaparan, penyakit, dan kekurangan gizi (terutama pada tahun terburuk, 1847, yang dijuluki Black 47). Sekitar satu hingga dua juta orang beremigrasi dari Irlandia antara tahun 1845 hingga 1855, sebagian besar menuju Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. Banyak yang meninggal dalam perjalanan di kapal-kapal yang dikenal sebagai Coffin Ships karena kondisi yang mengerikan. Populasi Irlandia, yang pada tahun 1844 hampir mencapai 8.4 juta, turun menjadi sekitar 6.6 juta pada tahun 1851. Penurunan populasi ini terus berlanjut selama beberapa dekade berikutnya karena tingkat kelahiran rendah dan emigrasi terus-menerus.
Kelaparan ini meningkatkan sentimen anti-Inggris di Irlandia dan di kalangan diaspora Irlandia. Tragedi ini menjadi katalis penting bagi munculnya nasionalisme Irlandia dan perjuangan kemerdekaan di masa depan. Peristiwa yang secara kolektif dikenal sebagai Kelaparan Hebat dan masih menjadi momen kunci yang membentuk identitas, politik, dan hubungan Irlandia dengan dunia.
Kisah yang sangat terkenal dan sering diceritakan dalam narasi sejarah dan budaya Irlandia, yang menyoroti perbandingan kontras antara respons kedaulatan Inggris (Ratu Victoria) dan sumbangan dari kekaisaran Ottoman / Utsmaniyah. Berikut fakta historis dan tradisi lisan :
Kabar tentang penderitaan kelaparan di Irlandia mencapai seluruh dunia, salah satu respons paling mengejutkan datang dari Kesultanan Utsmaniyah yang jauh, saat itu diperintah oleh Sultan Abdül Majid I yang sangat tersentuh oleh laporan tentang kelaparan dan dilaporkan awalnya bermaksud untuk menyumbangkan sejumlah besar uang, yaitu £10.000, yang merupakan jumlah yang sangat besar pada masa itu. Pada saat yang sama, Ratu Victoria dari Inggris yang secara politik menguasai Irlandia telah menyumbangkan sejumlah dari kantong pribadinya sebesar £2.000.
Menurut tradisi lisan dan beberapa laporan sejarah yang tidak diverifikasi, para diplomat Inggris keberatan dengan niat Sultan. Mereka khawatir bahwa sumbangan dari penguasa asing yang lima kali lebih besar daripada sumbangan Ratu Inggris akan menjadi penghinaan diplomatik dan mempermalukan Kerajaan Inggris. Untuk menghormati protokol kerajaan Inggris, Sultan Abdül Majid I akhirnya terpaksa mengurangi sumbangan tunainya menjadi £1.000.
Meskipun sumbangan uang tunai resminya dikurangi (tradisi lisan Irlandia dan didukung oleh beberapa arsip Turki) menyatakan bahwa Sultan tidak berhenti disitu. Sultan Abdül Majid I dikatakan telah memerintahkan secara rahasia tiga hingga lima kapal yang sarat dengan bahan makanan berisi gandum, jagung dan obat-obatan untuk dikirim ke Irlandia. Disebutkan bahwa kapal-kapal tersebut dilarang berlabuh di pelabuhan besar seperti Dublin atau Cork oleh angkatan laut Inggris. Kapal-kapal itu akhirnya berlabuh di pelabuhan yang lebih kecil di utara Dublin, yaitu di Drogheda, di sepanjang Sungai Boyne, untuk menurunkan muatan mereka secara diam-diam.
Sebagai penghormatan abadi atas kemurahan hati yang tak terduga ini, lambang kota Drogheda hingga hari ini menampilkan lambang Bulan Sabit dan Bintang Kekaisaran Ottoman, meskipun asal usul lambang itu juga memiliki klaim sejarah lain. Kisah bantuan Ottoman ini tetap menjadi simbol persaudaraan kemanusiaan yang melampaui batas politik, agama, dan geografis di mata rakyat Irlandia.
Sumbangan Ratu Victoria sebesar £2.000 menjadikannya donatur individu terbesar bagi upaya bantuan kelaparan di Inggris pada saat itu. Namun, bagi banyak orang Irlandia, sumbangan Ratu Victoria itu dipandang tidak memadai mengingat kekayaan Mahkota dan tingkat kehancuran yang terjadi di negara yang secara resmi ia pimpin. Kontras antara penderitaan rakyat Irlandia dan kegagalan respons pemerintah di bawah pemerintahannya, Ratu Victoria kemudian diberi julukan pahit, The Famine Queen di Irlandia, karena mencerminkan pengabaian apa yang dirasakan oleh banyak orang.
Kisah sumbangan Sultan yang ditolak besarnya oleh diplomat Inggris menjadi narasi yang kuat untuk menggaris-bawahi rasa kurangnya rasa belas kasih dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab dan kebaikan tak terduga dari pihak yang jauh.
Sumber :
Memberikan tinjauan umum mengenai Kelaparan Besar, penyebab blight kentang, dan dampak demografi termasuk emigrasi massal. https://tirto.id/kala-kelaparan-hebat-melanda-irlandia-akibat-penyakit-kentang-gZlJ
Artikel yang secara khusus membahas kisah historis tentang peran Kekhalifahan Utsmaniyah (Sultan Abdül Majid I) dalam memberikan bantuan kemanusiaan kepada Irlandia. https://khazanah.republika.co.id/berita/q5shj5385/jejak-ottoman-selamatkan-kelaparan-warga-kristen-irlandia
Fokus pada aspek kemanusiaan dan kisah sumbangan dari Turki Utsmani https://tebuireng.online/empati-umat-islam-pada-wabah-kelaparan-irlandia/
Sumber ensiklopedis yang memberikan ikhtisar rinci mengenai tanggal, penyebab, dampak kematian dan emigrasi, serta perdebatan sejarah yang masih ada.https://id.wikipedia.org/wiki/Wabah_Kelaparan_Besar
Sumber otoritatif mengenai definisi, penyebab utama (termasuk late blight), dan signifikansi jangka panjangnya terhadap demografi dan sejarah Irlandia https://www.britannica.com/event/Great-Famine-Irish-history
Sumber yang menjelaskan peran Pemerintah Inggris, kebijakan laissez-faire, pencabutan Corn Laws, dan bagaimana Parlemen Inggris menangani krisis saat itu. https://www.parliament.uk/about/living-heritage/evolutionofparliament/legislativescrutiny/parliamentandireland/overview/the-great-famine/
Website dan foto yang digunakan di website ini adalah hasil karya saya pribadi, kecuali disebutkan sumber asalnya. Hubungi whatsapp saya mengenai foto atau artikel yang saya publikasikan.