Menu

Konten abal abal TikTok memang berpotensi sangat merugikan dan kontraproduktif

01 December 2025

TikTok menunjukkan pergeseran psikologis di mana popularitas menggantikan kredibilitas

Ayah Radjawali

Secara psikologis, penggunaan TikTok untuk konten abal-abal memang berpotensi sangat merugikan dan kontraproduktif terhadap pendidikan dan pemikiran kritis, terutama bagi pengguna yang menyamakan viralitas dengan kualitas atau kebenaran.

Beberapa aspek psikologis mengapa fenomena ini menjadi tantangan serius
  1. Algoritma TikTok bekerja berdasarkan engagement awal. Jika Anda berinteraksi dengan konten abal-abal (meskipun Anda hanya berinteraksi karena merasa heran atau marah), algoritma akan menganggap Anda menyukai topik tersebut.
    Pengguna akan terus disajikan konten serupa, memperkuat pandangan yang salah atau menyesatkan. Mereka terperangkap dalam "Filter Bubble" yang hanya menunjukkan kebenaran versi konten viral, terlepas dari faktanya.
  2. Manusia secara alamiah cenderung meniru atau mempercayai apa yang dilakukan oleh banyak orang lain. Ketika sebuah video memiliki jutaan likes dan views, secara otomatis otak kita menganggapnya penting, populer, dan, bagi sebagian orang, benar. Viral menjadi ukuran tunggal untuk valid. Pengguna berhenti bertanya, “Apakah ini akurat?” dan hanya bertanya, “Seberapa populerkah ini?”
  3. Format video pendek melatih otak untuk mengharapkan rangsangan dopamin secara instan. Konten yang butuh pemikiran mendalam atau sumber validasi seringkali dilewatkan begitu saja. Topik yang kompleks harus disederhanakan secara ekstrem untuk masuk dalam 60 detik, yang seringkali mengorbankan nuansa dan kebenaran. Ini melemahkan kemampuan seseorang untuk memproses dan menganalisis informasi yang panjang atau kompleks (penurunan kognitif).
  4. Konten abal-abal seringkali mempromosikan standar hidup yang tidak realistis, klaim kesehatan yang tidak mungkin, misalnya solusi instan untuk kurus atau teori konspirasi yang menimbulkan kecemasan. Hal ini dapat memicu perbandingan sosial yang tidak sehat, kecemasan, dan rasa tidak puas terhadap diri sendiri.
  5. Influencer tanpa kualifikasi yang jelas lebih dipercaya daripada profesional (dokter, ilmuwan, ahli keuangan) yang memberikan penjelasan panjang dan hati-hati, ini mengikis kepercayaan pada sumber otoritas tradisional. Menyulitkan upaya pendidikan karena audiens lebih memilih informasi yang menghibur dan mudah dicerna, meskipun salah.

Benar, TikTok menunjukkan pergeseran psikologis dimana popularitas menggantikan kredibilitas.

Tugas pengguna adalah melatih literasi digital dan pemikiran kritis untuk membedakan antara konten yang menarik secara visual dengan konten yang valid dan mendidik, terlepas dari berapa banyak views yang dimilikinya.

Website dan foto yang digunakan di website ini adalah hasil karya saya pribadi, kecuali disebutkan sumber asalnya. Hubungi whatsapp saya mengenai foto atau artikel yang saya publikasikan.